Bicara masalah musik puisi, kita
dihadapkan pada persoalan pengertian musik itu sendiri, musik yang
dipuisikan atau puisi yang dimusikkan? mana yang tercipta lebih dahulu
lagu atau syairnya., lagu yang tercipta dahulu baru diisi dengan syair
puisi, ada yang puisinya tenar dahulu baru dimusikalisasi. Namun
kebanyakan musik puisi adalah puisi dahulu baru dimusikalisasi, puisi
ditulis oleh penyair kemudian dibaca, ditafsirkan, dan dihayati kemudian
penyampaian penafsiran dan penghayatan dilakukan melalui serangkaian
nada, jadilah lagu. Namun beberapa puisi mempunyai ritme yang alami,
mampu menghasilkan bunyi, memiliki intonasi nada seperti karya-karya
Sutardji C. Bachri. Seandainya karya Sutarji tidak diperhitungkan
intonasinya akan berkurang dalam penafsiran dan penghayatan
karyanya.
Musik puisi pernah menghias jagat musik era 70-an di Indonesia.
Beberapa seniman mencoba untuk memusikalisasikan puisi antara lain,
puisi Sanusi Pane, Chairil Anwar, Kirdjomulyo, Ramadhan K.H. Karya
sastra tersebut digubah menjadi lagu oleh komponis dan penulis lagu
seperti FX. Sutopo dll. Syair pada lagu bercerita tentang persoalan
hidup, tentang lingkungan hidup, keindahan alam. Bimbo, bisa dikatakan
sebagai penggebrak “avendgarde” musik puisi di Indonesia. Mereka
bekerjasama dengan penyair Taufik Ismail “Dengan puisi aku bernyanyi”.
Mereka memberi warna baru, syair-syairnya mengandung perenungan,
Ballada, “Kerakap di atas Batu”, “Siapa Bilang Itu yang Bernyanyi” .
Kemudian musik Indonesia dikejutkan dengan duo Frenky & Jane yang
membawakan lagu musik akustik, country (Ballada), mereka berkerjasama
dengan penulis puisi Yudistira Aan Nugroho. Sedangkan pada penyanyi
wanita, musik puisi syairnya bercerita tentang alam Seperti Ully Sigar
Rusadi (Vicki Vindi Vici), Elly Sunarya, Rita Ruby Hartland “Kepada Alam
dan pencintanya”. Mengenai sejarah musik puisi kita juga harus ingat
peran para seniman Yogyakarta, Umbu Landu Paranggi dengan murid2nya
seperti Ebied G. Ade, Emha Ainun Najib, Ragil Suwarna Pragolapati, Deded
Er Moerad yang selalu membawa puisi-puisinya dengan musik. Kemudian
seniman jalanan di Surabaya seperti Leo Kristi, The Gembel, Gombloh
& The Lemon Tree. Di Bandung ada penyanyi bertutur Doel Sumbang,
Harry Rusly and the Gank.
Karya-karya puisi yang sukses diblantika musik Indonesia, memiliki
ketajaman pada syair, ada yang berirama syahdu, kontemplatif,
percintaan, sujud syukur Pada Tuhan atas karunia alam semesta. seperti
Ebied G. Ade “Berita Kepada Kawan”, “Untuk Kita Renungkan” Ada pula
musik puisi kritik sosial, serta membaca realita kehidupan. Seperti Iwan
Fals. Ia pernah musikalisasi puisi karya-karya Ws. Rendra Seperti
“Kesaksian”, Musik puisi juga ada yang dilantunkan dengan semangat
bravura, coraknya condong ke nafas nasionalisme, Gombloh “Kebyar-kebyar”
(sekarang menjadi lagu wajib bersanding dengan lagu nasional lainnya.).
Ia juga membawakan lagu dengan bahasa khas wong cilik, bahasa
sehari-hari, tentang gelandangan, tukang becak, para pelacur
(orang-orang malam), lorong-lorong kumuh dan sumpek. Selain itu Gombloh
pernah menyanyikan karya sastra Ronggowarsito “Hong wilaheng”. Sedangkan
Leo Kristi pemahaman musik puisinya sangat kritis terhadap lingkungan,
ia membicarakan tentang rakyat, tentang penghormatan terhadap
tokoh-tokoh pahlawan nasional. musiknya akustik, di tambah
variasi-variasi peralatan tradisional yang dimiliki suku-suku di
nusantara seperti lagu “Gulagalagu”. Beberapa lagu Doel Sumbang, Harry
Rusli memiliki lirik puisi bagus, lebih deskriptif (bercerita panjang
lebar) cenderung jenaka.
Musikalisasi puisi juga ada yang tak mampu menembus pangsa lagu-lagu komersil, akan tetapi kehadirannya dapat mengisi blantika musik Indonesia meski tak setenar penyanyi lain. Banyak karya-karya puisi yang coba dimusikalisasikan seperti karya Umbu landu paranggi “Kuda Putih”, “Apa ada Angin di Jakarta”. Antologi puisi Gunawan Muhammad “Parikesit”, Darmanto Yatman, Sapardi Joko Damono “Dukamu Abadi”. karena tingkat kesulitan dalam penyelarasan syair dan musik kekinian. Andaipun bisa menggunakan musik bertutur, atau meminimalis musik (akustik) dan lebih ditonjolkan pada syairnya.
Banyak penyanyi yang mengusung musik puisi karya sendiri atau dari karya penyair lainnya seperti Wanda Chaplin (Papa T. Bob), Toar Tangkau, Bram Kampungan. Boedi Soesatio yang membuat kumpulan Musikalisasi puisinya Emha Ainun Nadjib, Ags Arya Dipayana, Acep Zamzam Noor, Sony Farid Maulana dalam album “Akan Kemanakah Angin”. Hingga di awal tahun 2000 Festifal-festifal musik puisi di selenggarakan di balai budaya maupun di tingkat komunitas-komunitas seni. Mungkin ini salah satu kiat dari para seniman dalam mengenalkan karya-karyanya kepada publik. Imbas dari musik bersyair puitis di blantika musik Indonesia, banyak buku karya sastra lama terbit ulang, di samping itu perburuan buku karya sastra menjadi “trend” di kalangan anak muda.
Pada era sekarang ada beberapa lagu yang penggarapaannya mengutamakan kualitas syair, seperti lagu Katon Bagaskara (KLA Project), Dewa 19, Padi, Melly, Sheila On 7, Debu, Coklat, Letto, Ungu. namun juga ada yang cenderung terispirasi karya sastra. Chairil Anwar, Sapardi Joko Damono, Muhammad Iqbal, Jallaludin Rumi, Khalil Gibran. Mereka tidak membawakan karya secara utuh, mengambil sebagian atau pengadaptasian kata dengan musik. Penggarapan musik puisi dengan menggunakan berbagai macam aliaran musik Pop, Dangdut, Qosidah, Rap, Rock. Hal ini tergantung kepiawaian seorang pengaransemen dalam mengemas musik puisi tersebut. Masalah layak dan tidak layak musik itu dikonsumsi dikembalikan pada kritisi penikmat musik itu sendiri.
Musikalisasi puisi juga ada yang tak mampu menembus pangsa lagu-lagu komersil, akan tetapi kehadirannya dapat mengisi blantika musik Indonesia meski tak setenar penyanyi lain. Banyak karya-karya puisi yang coba dimusikalisasikan seperti karya Umbu landu paranggi “Kuda Putih”, “Apa ada Angin di Jakarta”. Antologi puisi Gunawan Muhammad “Parikesit”, Darmanto Yatman, Sapardi Joko Damono “Dukamu Abadi”. karena tingkat kesulitan dalam penyelarasan syair dan musik kekinian. Andaipun bisa menggunakan musik bertutur, atau meminimalis musik (akustik) dan lebih ditonjolkan pada syairnya.
Banyak penyanyi yang mengusung musik puisi karya sendiri atau dari karya penyair lainnya seperti Wanda Chaplin (Papa T. Bob), Toar Tangkau, Bram Kampungan. Boedi Soesatio yang membuat kumpulan Musikalisasi puisinya Emha Ainun Nadjib, Ags Arya Dipayana, Acep Zamzam Noor, Sony Farid Maulana dalam album “Akan Kemanakah Angin”. Hingga di awal tahun 2000 Festifal-festifal musik puisi di selenggarakan di balai budaya maupun di tingkat komunitas-komunitas seni. Mungkin ini salah satu kiat dari para seniman dalam mengenalkan karya-karyanya kepada publik. Imbas dari musik bersyair puitis di blantika musik Indonesia, banyak buku karya sastra lama terbit ulang, di samping itu perburuan buku karya sastra menjadi “trend” di kalangan anak muda.
Pada era sekarang ada beberapa lagu yang penggarapaannya mengutamakan kualitas syair, seperti lagu Katon Bagaskara (KLA Project), Dewa 19, Padi, Melly, Sheila On 7, Debu, Coklat, Letto, Ungu. namun juga ada yang cenderung terispirasi karya sastra. Chairil Anwar, Sapardi Joko Damono, Muhammad Iqbal, Jallaludin Rumi, Khalil Gibran. Mereka tidak membawakan karya secara utuh, mengambil sebagian atau pengadaptasian kata dengan musik. Penggarapan musik puisi dengan menggunakan berbagai macam aliaran musik Pop, Dangdut, Qosidah, Rap, Rock. Hal ini tergantung kepiawaian seorang pengaransemen dalam mengemas musik puisi tersebut. Masalah layak dan tidak layak musik itu dikonsumsi dikembalikan pada kritisi penikmat musik itu sendiri.
* dalam Gandrung Sastra Margoyoso # 1 "Pemuda di Ruang Sempit"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar