Beberapa Penulis Cerpen :
- Dewi Starlife
- Marini Numawa
- Zulfa Yulia
- Dyah Istiani
- Lulu Ngaqilah
- Indah Yuliana
- Hafidzoh Hanifah
- Muh. Ulil Albab
- Rela Sabtiana
- Rajabandfrend
- Ariza Zuhroh
- Aloeth Pathi Cerpen : Vespa Merah 1962 Milik Kakek
Vespa Merah 1962 Milik Kakek
Menjelang subuh yang sangat dingin membuat Rahutami cepat mengambil
air wudhu. Ia bergegas sholat. Setelah
mendengar suara
muazzin dari mushola samping rumah. Habis
sembahyang kembali ke kamar tidurnya. Tidak seperti biasanya, habis subuhan
Rahutami ke dapur mempersiapkan sarapan. Seminggu ini kesehatan Rahutami agak
menurun, wajahnya kelihatan murung bersedih. Bila Mengingat
Vespa merah tahun 1962 peninggalan Arwani, suaminya.
Arwani seorang militer dari kesatuan TNI AD, Ia meminang Rahutami putri Ketua Lembaga Seni Muslimin Indonesia (LESBUMI) dengan maskawin sebuah vespa. Arwani harus
mengalahkan beberapa pesaingnya, termasuk Sucipto anak Ketua Polit Biro CC PKI.
Rahutami dikaruniai buah hati dua orang anak
laki-laki bernama Suhadi dan Suyuti, dari Hasil perkawinan dengan Arwani.
Rahutami naik vespa mengantar suaminya di Barak Militer, sekaligus itu
terakhir kalinya ia bertemu suaminya. beliau berangkat tugas ke Perbatasan
Kalimantan-Malaysia, ikut bertempur di Serawak. Arwani menjadi sosok misterius sampai
sekarang belum diketahui keberadaannya, ia masih hidup atau sudah meninggal.
Menurut berita dari Badan Pertahanan dan Keamanan Republik Indonesia. Arwani
termasuk pejuang Dwikora yang hilang.
diduga gugur, namun jasadnya belum ditemukan. Itu membuat Rahutami sedih, ia berusaha menghibur diri dengan merawat vespa merah
kesukaan suaminya. Rahutami berpesan pada anak-anaknya agar vespa tetap disini menemaninya
sepanjang hidup.
Semenjak Suhadi putra
sulungnya menjual
vespa kepada Rachmad seorang kolektor montor antik. Rahutami pindah ke rumah Suyuti anak bungsunya. Ia menjadi
pemurung, membuat Suyuti kebingungan, tidak tahu apa keinginan ibunya. Cuma Ardi cucu kesayangannya yang bisa mengerti dan mengambil hati si nenek.
Ardi menyarankan ayahnya agar nenek
dibelikan sebuah vespa 1962
berwarna merah persis dengan vespa kakek, agar si nenek tidak bersedih. Ardi
sengaja berputar-putar di depan rumah. Mencari perhatian si Nenek. Namun usaha Suyuti dan Ardi sia-sia karena Rahutami merasa vespa itu bukan milik suaminya.
Vespa sangat berharga sekali
bagi Rahutami, dahulu menjadi kendaraan sehari-hari ke pasar. Mengantar kedua putranya ke sekolah, atau jalan-jalan ke
taman kota. Vespa menjadi kenangan akan
besarnya kekuatan Cinta mereka. menjadi saksi bagaimana kesetiaan Rahutami saat
diuji. ketika ia Menunggu Arwani pulang dari tugas negara. Sedang kondisi dalam
negeri terjadi kekacuan politik 1965, sementara Sucipto
mencoba meyakinkan Rahutami bahwa suaminya telah gugur di medan tempur.
“tak usahlah menunggu yang tak pasti Rahmi, sekarang bagaimana
memikirkan masa depan anakmu? Aku siap menjadi pengganti ayahnya ” bantuan beras dan dua kaleng susu dari
Sucipto seminggu sekali diangkut dengan vespa merah.
Hingga suatu ketika segerombolan pemuda mengatasnamakan Gerakan
Pemuda Penyelamat Pancasila menghadangnnya. Vespa merah ini nyaris dibakar massa,
dicorang-coreng, “Gerwani”, “Antek PKI” gara-gara membawa Sucipto Aktifis
Pemuda Rakyat yang terluka parah. Rahutami menghindar dari amuk massa lewat
lorong kubur di belakang balai pengobatan. Meski nyawa Sucipto akhirnya tidak
terselamatkan.
Melihat kondisi Rahutami yang melemah patah semangat menghadapi
hidup. Ardi dan ayahnya pergi ke Kota Pati dengan harapan bisa bertemu pembeli
vespa kakeknya. Namun sayang vespa itu telah dijual, kepada Koh Lan seorang
kolektor barang antik keturunan Cina. ia
menjual vespa itu murah sekali, karena bodinya sudah berubah bukan orisinil lagi.
Suyuti dan Ardi mencatat nama-nama komunitas Vespa yang ada di Kabupaten Pati. Mereka
berdua keliling menemui satu per satu komunitas montor antik di wilayah itu namun
juga belum menemukan vespa kakek.
Rahutami marah besar kepada anak sulungnya, ketika Vespanya dipakai
track-trackan di Kalibata. Balapan dengan montor-montor Jepang. Meski menang
namun Rahutami tidak mau anaknya ikut-ikutan anti Jepang, Demontrasi anti Perdana Menteri Jepang Tanaka
pada tahun 1974. Baginya kebijakan pemerintah atau oposisi sama-sama membikin
bingung rakyat. Rahutami bener-bener kepengin menjauh dari politik, ia berharap
jangan sampai bersinggungan dengan hukum.
Di jaman Orde Baru Rahutami membantu Puskesmas jadi tukang ojek antar
jemput Bidan ke rumah ibu yang mau melahirkan. Suatu hari pernah Vespa Merah
nyaris hilang dibawa kabur pencuri. Namun tenggang waktu tiga hari vespa itu
kembali ke rumah Rahutami disertai sepucuk surat di atas tutup bensin.
“maafkan suami saya bu..... suami saya nggak tau bagaimana beratnya
melahirkan anak...” ternyata istri pencuri itu adalah salah satu yang pernah
dibantu Bidan desa.
Keadaan Nenek mulai
memburuk, setiap hari hanya makan satu kali. Tangannya menggerakan biji tasbih.
Setiap hari berdo’a supaya vespa merahnya bisa dapat kembali lagi seperti
kejadian 30 tahun yang lalu.
Waktu liburan sekolah Ardi mengajak Wawan teman sebangku pergi berpetualang,
mencari vespa nenek sampai kepelosok negeri manapun, mereka bertekad tidak
pulang sebelum menemukan vespa nenek, meski
harus mencarinya ke seluruh Indonesia sekalipun. Mereka berangkat dari Jakarta
menuju Semarang, info terakhir diterima dari para biker Pati posisi vespa nenek
berada di Semarang. Koh Lan menjual vespa itu kepada adiknya, Boh Yun yang
memiliki Pabrik Garmen di Ungaran.
“Berarti dia bukan biker sejati, kalau dia ikut komunitas montor
antik, pastilah dikenal para biker Vespa sepanjang Pantura” keluh Ardi tatkala
para komunitas yang disinggahinya tidak tahu Koh Lan seorang Pengusaha Barang Antik. Sepanjang
perjalan terus mencari tahu info tentang adiknya Koh Lan
Kota Tegal sebagai salah satu kota sentra hasil ikan laut. Ardi dan
Wawan singgah sebentar di Warteg untuk mengisi perut. Karena seharian perutnya
belum keisi makanan. Tiba-tiba dari arah Timur muncul segerombolan kendaraan
roda dua dengan raung knalpot yang memekakakan telinga. Dari sorot mata
menunjukan sifat bermusuhan dangan mereka berdua. Sindiran-sindiran memancing
emosi. Ardi dan Wawan cepat membayar nasi Warteg Untuk mencegah terjadinya
konflik yang tidak diinginkan. Namun
gerombolan gank montor, menganggap Ardi salah satu anggota genk musuhnya,
karena curiga Vespa Merah ini pernah dipakai seseorang memukuli salah satu anggota ganknya.
Kesalahpahaman ini bisa diselesaikan dengan pemilik Warteg, bahkan
salah satu genk montor itu mengajak Ardi menemui kolektor montor Antik, pak
Yarman yang juga salah seorang veteran perang. Pertemuan
Ardi dan Pak Yarman tanpa di sengaja, menjadi pertemuan langka dan ajaib. Semua serba kebetulan karena
bisa mempertemukan seorang perajurit perang dengan cucu seorang komandan di
kompinya dulu.
Yarman bercerita tentang kakek Ardi sebagai seorang komandan yang
sangat tegas, jujur dan pemberani. Pak Arwani membawa pasukan satu kompi
menerjang kawat pembatas tapal negara, masuk menuju hutan perbatasan. Tinggal
11 orang, lainnya tewas dalam perjalanan menuju markas Tentara Kesemakmuran
Malaysia. Markas itu juga diperkuat Pasukan Inggris.
“tengah malam kami menyerang posko di tapal desa, kami hampir
menang mas...tapi dari belakang kami dikepung pasukan inggris..kami dijebak..,semua
pasukan habis, hanya kami bertiga yang selamat Dul Ghani, Fauzi terjun ke
jurang, aku tertebak kakiku di parit jarak 100 meter dari lokasi pembantaian.
Aku pingsan tiba-tiba waktu aku bangun aku dipanggul Dul Ghani sama fauzi
menjauh dari perbatasan, kami bertahan di hutan hampir satu bulan lamanya.”
“Terus Kakek saya gimana
Pak?” Ardi bertanya seakan tidak rela bila kakek dibiarkan tewas sementara Pak
Yarman dan kedua temannya masih hidup.
“Waktu itu Kakekmu sama kopral Afandi masih hidup, aku lihat dia
berlari menyebarang sungai, tapi kami bertiga kehilangan kontak, data yang
masuk dari RRI tentang korban penyerangan posko perbatasan itu 6 TNI dan 15
Tentara Malaysia”
Ardi membuka album kenangan milik Pak Yarman, kebetulan ada
beberapa foto Pak Yarman bersama Kakek Ardi, juga ada foto Rahutami naik Vespa
Merah. Ada yang aneh, di bawah jok depan agak
menonjol. Wawan memotret ulang foto usang itu, kemudian ditaruh Leptop untuk di
zoom nyampai 200% agar bisa melihat lebih detail tentang keanehan Vespa kakek.
“Pantas saja vespa ini lakunya murah..lihat ini!! nggak orisinilkan
?” tunjuk Ardi di bawah jok vespa. Pak Yarman juga bingung melihat bodynya yang
agak beda dengan Vespa 1962. sedang asyik
mengamati foto tua, tiba-tiba Hand Phone Ardi berbunyi, telpon dari Koh Lan bahwa
posisi vespa ada di Ungaran, telah dibeli Ryan Juragan kain.
Mereka langsung cabut dari
Tegal menuju Ungaran. nyampai jam 5
sore.
kemudian menelpon Ryan, yang mabuk di Warung
remang-remang milik mbak Sri seorang penjaja cinta. Ryan
dalam keadaan teler mabuk berat.
“vespa
merah? barusan dibawa Partono mau dijual
ke Haji Sardi. katanya, Om Ryan kena tipu Vespa modifikasi kok di bilang
orisinil” Mbak Sri mengasih kartu alamat Haji Sardi.
“lha ini gimana mas?” mbak Sri menunjuk Ryan yang masih memeluknya.
Ardi tersenyum, mengangkat kedua tangannya
sambil geleng2 kepala, langsung cabut dengan vespa merah menuju Rumah Haji
Sardi.
Sesampainya di Ungaran Ardi dan wawan menceritakan semuanya kepada Haji Sardi tentang Vespa Merah neneknya. Dan adanya keinginan untuk membeli
vespa itu kembali.
“astagfirullah hal adzim, vespanya barusan dibawa anakku ke Yogya.
Coba nanti saya tilpon mas”
Pak Haji mengambil Vespa Congo kemudian berangkat bertiga dengan dua
Vespa antik melaju cepat menemui anaknya yang barusan sampai Kota Secang. Vespa
Ardi yang berwarna Merah 1962 Orisinil ditukar dengan Vespa Merah kakek yang
sudah di modifikasi. Betapa senangnya putra Pak Haji Sardi vespanya diganti dengan
yang orisinil.
Pada tengah malam di gang sempit Jakarta, suara raung knalpot vespa Ardi membangunkan nenek yang sedang
tidur, Nenek meminta Suyuti membopongnya
menuju Ardi yang pulang dari Touring vespa. betapa terkejutnya nenek melihat
vespa yang dibawa Ardi benar-benar milik kakek. Air mata mengalir betapa
harunya, dielus2 vespa merah itu.
“Jangan dijual lagi Vespa ini ya” nenek duduk di kursi goyang
sambil melihat Vespa merahnya. Tertidur dan tersernyum, tak lama kemudian nenek
menghembuskan nafas terakhir. Seisi rumah panik, Ardi memeluk erat neneknya.
Pecah tangis sekeluarga. Hanya penyesalan yang diratapi Suhadi melihat jasad
ibunya.
Sebulan setelah kematian nenek, Ardi penasaran dengan Vespa merah kakek
tahun 1962 yang sudah nggak lagi
orisinil kenapa mesti harus diributkan Nenek dengan Paman Suhadi.
Pada Sabtu Sore Vespa Merah Kakek di cuci, disemprot kemudian dilap
mengkilap buat nongkrong acara malam minggu. Ardi meraba lempengan yang agak
menonjol di bawah Jok Vespa. Dipukul pelan-pelan dengan gagang kunci busi.
Tiba-tiba lempengan itu membuka seperti per pegas yang mendorongnya keluar
tutup lempengan. Ada buntalan plastik tebal yang sudah berwarna coklat dan
didalamnya ada gulungan kain sebesar buku. Ternyata buku diary kakek dan nenek
serta surat-surat cinta, serta beberapa lembar foto-foto tua saat mudanya. Sore
itu Ardi sekeluarga membacanya bergantian ayah, ibu, adik sambil minum teh. Ada
tawa, haru, senang bangga pada kakeknya yang ganteng seorang pejuang gagah berani, nenek yang cantik ringan tangan
suka menolong sesama. Sebuah perjalanan tentang cerita romantis kakek dan nenek
disaat mudanya...
Sekarjalak, 16 Agustus 2013
Biodata;
Aloeth Pathi,
lahir di Sekarjalak-Pati 16 Maret.
Karyanya pernah dimuat Buletin Prasasti, Mata Media dan beberapa diantaranya dimuat dalam buku antologi
bersama, diantaranya Dari Dam Sengon Ke
Jembatan Panengel (Dewan Kesenian Kudus dan Forum Sastra Surakarta 2013). Antologi Puisi Menolak Korupsi II (Forum
Sastra Surakarta). Aktif di Gandrung Sastra Margoyoso-Pati. Serta mengelola
Buletin Gandrung Sastra Media dan Buletin Perahu Sastra. Selain itu juga
aktif di Teater Lintang Utara, Lingkar Study Waroeng Kopie (LSWK),
Komunitas Oyot Jati Margoyoso, Sanggar Sang Saka Sekarjalak. Tinggal di
Jln. Ronggo Kusumo 204, Sekarjalak, Margoyoso-Pati. E-mail :
margoyoso-cah@yahoo.com . No hp; 085225149959

Tidak ada komentar:
Posting Komentar