Selasa, 01 Juli 2014

Antologi Cerpen 2HAL Lucu & Mistery



Beberapa Penulis Cerpen :
  1. Dewi Starlife
  2. Marini Numawa
  3. Zulfa Yulia
  4. Dyah Istiani
  5. Lulu Ngaqilah
  6. Indah Yuliana
  7. Hafidzoh Hanifah
  8. Muh. Ulil Albab
  9. Rela Sabtiana
  10. Rajabandfrend
  11. Ariza Zuhroh   
  12. Aloeth Pathi   Cerpen : Vespa Merah 1962 Milik Kakek



Vespa Merah 1962 Milik Kakek 


Menjelang subuh yang sangat dingin membuat Rahutami cepat mengambil air wudhu. Ia bergegas sholat. Setelah mendengar suara muazzin dari mushola samping rumah. Habis sembahyang kembali ke kamar tidurnya. Tidak seperti biasanya, habis subuhan Rahutami ke dapur mempersiapkan sarapan. Seminggu ini kesehatan Rahutami agak menurun, wajahnya kelihatan murung bersedih. Bila Mengingat Vespa merah tahun 1962 peninggalan Arwani, suaminya.
Arwani seorang militer dari kesatuan TNI AD, Ia meminang Rahutami putri Ketua Lembaga Seni Muslimin Indonesia (LESBUMI) dengan maskawin sebuah vespa. Arwani harus mengalahkan beberapa pesaingnya, termasuk Sucipto anak Ketua Polit Biro CC PKI. Rahutami dikaruniai  buah hati dua orang anak laki-laki bernama Suhadi dan Suyuti, dari Hasil perkawinan dengan Arwani.
Rahutami naik vespa mengantar suaminya di Barak Militer, sekaligus itu terakhir kalinya ia bertemu suaminya. beliau berangkat tugas ke Perbatasan Kalimantan-Malaysia, ikut bertempur di Serawak. Arwani menjadi sosok misterius sampai sekarang belum diketahui keberadaannya, ia masih hidup atau sudah meninggal. Menurut berita dari Badan Pertahanan dan Keamanan Republik Indonesia. Arwani termasuk pejuang Dwikora yang hilang. diduga gugur, namun jasadnya belum ditemukan. Itu  membuat Rahutami sedih, ia berusaha  menghibur diri dengan merawat vespa merah kesukaan suaminya. Rahutami berpesan pada anak-anaknya agar vespa tetap disini menemaninya sepanjang hidup.
Semenjak Suhadi putra sulungnya menjual vespa kepada Rachmad seorang kolektor  montor  antik.  Rahutami  pindah ke rumah Suyuti anak bungsunya. Ia menjadi pemurung, membuat Suyuti kebingungan, tidak tahu apa keinginan ibunya. Cuma Ardi cucu kesayangannya yang bisa mengerti dan mengambil hati si nenek.
Ardi menyarankan ayahnya agar nenek dibelikan sebuah vespa 1962 berwarna merah persis dengan vespa kakek, agar si nenek tidak bersedih. Ardi sengaja berputar-putar di depan rumah. Mencari perhatian si Nenek. Namun usaha Suyuti dan Ardi sia-sia karena Rahutami merasa vespa itu bukan milik suaminya.
Vespa sangat berharga sekali bagi Rahutami, dahulu menjadi kendaraan sehari-hari ke pasar. Mengantar kedua putranya ke sekolah, atau jalan-jalan ke taman kota. Vespa menjadi kenangan akan besarnya kekuatan Cinta mereka. menjadi saksi bagaimana kesetiaan Rahutami saat diuji. ketika ia Menunggu Arwani pulang dari tugas negara. Sedang kondisi dalam negeri terjadi kekacuan politik 1965, sementara Sucipto mencoba meyakinkan Rahutami bahwa suaminya telah gugur di medan tempur.
“tak usahlah menunggu yang tak pasti Rahmi, sekarang bagaimana memikirkan masa depan anakmu? Aku siap menjadi pengganti ayahnya ”  bantuan beras dan dua kaleng susu dari Sucipto seminggu sekali diangkut dengan vespa merah.
Hingga suatu ketika segerombolan pemuda mengatasnamakan Gerakan Pemuda Penyelamat Pancasila menghadangnnya. Vespa merah ini nyaris dibakar massa, dicorang-coreng,  “Gerwani”,  “Antek PKI” gara-gara membawa Sucipto Aktifis Pemuda Rakyat yang terluka parah. Rahutami menghindar dari amuk massa lewat lorong kubur di belakang balai pengobatan. Meski nyawa Sucipto akhirnya tidak terselamatkan.
Melihat kondisi Rahutami yang melemah patah semangat menghadapi hidup. Ardi dan ayahnya pergi ke Kota Pati dengan harapan bisa bertemu pembeli vespa kakeknya. Namun sayang vespa itu telah dijual, kepada Koh Lan seorang kolektor barang antik keturunan Cina. ia menjual vespa itu murah sekali, karena bodinya sudah berubah bukan orisinil lagi. Suyuti dan Ardi mencatat nama-nama komunitas Vespa yang ada di Kabupaten Pati. Mereka berdua keliling menemui satu per satu komunitas montor antik di wilayah itu namun juga belum menemukan vespa kakek.
Rahutami marah besar kepada anak sulungnya, ketika Vespanya dipakai track-trackan di Kalibata. Balapan dengan montor-montor Jepang. Meski menang namun Rahutami tidak mau anaknya ikut-ikutan anti Jepang,  Demontrasi anti Perdana Menteri Jepang Tanaka pada tahun 1974. Baginya kebijakan pemerintah atau oposisi sama-sama membikin bingung rakyat. Rahutami bener-bener kepengin menjauh dari politik, ia berharap jangan sampai bersinggungan dengan hukum.
Di jaman Orde Baru Rahutami membantu Puskesmas jadi tukang ojek antar jemput Bidan ke rumah ibu yang mau melahirkan. Suatu hari pernah Vespa Merah nyaris hilang dibawa kabur pencuri. Namun tenggang waktu tiga hari vespa itu kembali ke rumah Rahutami disertai sepucuk surat di atas tutup bensin.
“maafkan suami saya bu..... suami saya nggak tau bagaimana beratnya melahirkan anak...” ternyata istri pencuri itu adalah salah satu yang pernah dibantu Bidan desa.
Keadaan Nenek  mulai memburuk, setiap hari hanya makan satu kali. Tangannya menggerakan biji tasbih. Setiap hari berdo’a supaya vespa merahnya bisa dapat kembali lagi seperti kejadian 30 tahun yang lalu.
Waktu liburan sekolah Ardi mengajak Wawan teman sebangku pergi berpetualang, mencari vespa nenek sampai kepelosok negeri manapun, mereka bertekad tidak pulang sebelum  menemukan vespa nenek, meski harus mencarinya ke seluruh Indonesia sekalipun. Mereka berangkat dari Jakarta menuju Semarang, info terakhir diterima dari para biker Pati posisi vespa nenek berada di Semarang. Koh Lan menjual vespa itu kepada adiknya, Boh Yun yang memiliki Pabrik Garmen di Ungaran.
“Berarti dia bukan biker sejati, kalau dia ikut komunitas montor antik, pastilah dikenal para biker Vespa sepanjang Pantura” keluh Ardi tatkala para komunitas yang disinggahinya tidak tahu  Koh Lan seorang  Pengusaha Barang Antik. Sepanjang perjalan terus mencari tahu info tentang adiknya Koh Lan
Kota Tegal sebagai salah satu kota sentra hasil ikan laut. Ardi dan Wawan singgah sebentar di Warteg untuk mengisi perut. Karena seharian perutnya belum keisi makanan. Tiba-tiba dari arah Timur muncul segerombolan kendaraan roda dua dengan raung knalpot yang memekakakan telinga. Dari sorot mata menunjukan sifat bermusuhan dangan mereka berdua. Sindiran-sindiran memancing emosi. Ardi dan Wawan cepat membayar nasi Warteg Untuk mencegah terjadinya konflik yang tidak diinginkan. Namun gerombolan gank montor, menganggap Ardi salah satu anggota genk musuhnya, karena curiga Vespa Merah ini pernah dipakai seseorang memukuli salah satu anggota ganknya.
Kesalahpahaman ini bisa diselesaikan dengan pemilik Warteg, bahkan salah satu genk montor itu mengajak Ardi menemui kolektor montor Antik, pak Yarman yang juga salah seorang veteran perang. Pertemuan Ardi dan Pak Yarman tanpa di sengaja, menjadi pertemuan langka dan ajaib. Semua serba kebetulan karena bisa mempertemukan seorang perajurit perang dengan cucu seorang komandan di kompinya dulu.
Yarman bercerita tentang kakek Ardi sebagai seorang komandan yang sangat tegas, jujur dan pemberani. Pak Arwani membawa pasukan satu kompi menerjang kawat pembatas tapal negara, masuk menuju hutan perbatasan. Tinggal 11 orang, lainnya tewas dalam perjalanan menuju markas Tentara Kesemakmuran Malaysia. Markas itu juga diperkuat Pasukan Inggris.
“tengah malam kami menyerang posko di tapal desa, kami hampir menang mas...tapi dari belakang kami dikepung pasukan inggris..kami dijebak..,semua pasukan habis, hanya kami bertiga yang selamat Dul Ghani, Fauzi terjun ke jurang, aku tertebak kakiku di parit jarak 100 meter dari lokasi pembantaian. Aku pingsan tiba-tiba waktu aku bangun aku dipanggul Dul Ghani sama fauzi menjauh dari perbatasan, kami bertahan di hutan hampir satu bulan lamanya.”
“Terus Kakek  saya gimana Pak?” Ardi bertanya seakan tidak rela bila kakek dibiarkan tewas sementara Pak Yarman dan kedua temannya masih hidup.
“Waktu itu Kakekmu sama kopral Afandi masih hidup, aku lihat dia berlari menyebarang sungai, tapi kami bertiga kehilangan kontak, data yang masuk dari RRI tentang korban penyerangan posko perbatasan itu 6 TNI dan 15 Tentara Malaysia”
Ardi membuka album kenangan milik Pak Yarman, kebetulan ada beberapa foto Pak Yarman bersama Kakek Ardi, juga ada foto Rahutami naik Vespa Merah. Ada yang aneh, di bawah jok depan agak menonjol. Wawan memotret ulang foto usang itu, kemudian ditaruh Leptop untuk di zoom nyampai 200% agar bisa melihat lebih detail tentang keanehan Vespa kakek.
“Pantas saja vespa ini lakunya murah..lihat ini!! nggak orisinilkan ?” tunjuk Ardi di bawah jok vespa. Pak Yarman juga bingung melihat bodynya yang agak beda dengan Vespa 1962. sedang asyik mengamati foto tua, tiba-tiba Hand Phone  Ardi berbunyi, telpon dari Koh Lan bahwa posisi vespa ada di Ungaran, telah dibeli Ryan Juragan kain.
Mereka  langsung cabut dari Tegal menuju Ungaran. nyampai jam 5 sore. kemudian menelpon Ryan, yang mabuk di Warung remang-remang milik mbak Sri seorang penjaja cinta. Ryan dalam keadaan teler mabuk berat.
 “vespa merah?  barusan dibawa Partono mau dijual ke Haji Sardi. katanya, Om Ryan kena tipu Vespa modifikasi kok di bilang orisinil” Mbak Sri mengasih kartu alamat Haji Sardi.
“lha ini gimana mas?” mbak Sri menunjuk Ryan yang masih memeluknya.
Ardi tersenyum, mengangkat kedua tangannya sambil geleng2 kepala, langsung cabut dengan vespa merah menuju Rumah Haji Sardi.
Sesampainya di Ungaran Ardi dan wawan menceritakan semuanya kepada Haji Sardi tentang Vespa Merah neneknya. Dan adanya keinginan untuk membeli vespa itu kembali.
“astagfirullah hal adzim, vespanya barusan dibawa anakku ke Yogya. Coba nanti saya tilpon mas”
Pak Haji mengambil Vespa Congo kemudian berangkat bertiga dengan dua Vespa antik melaju cepat menemui anaknya yang barusan sampai Kota Secang. Vespa Ardi yang berwarna Merah 1962 Orisinil ditukar dengan Vespa Merah kakek yang sudah di modifikasi. Betapa senangnya putra Pak Haji Sardi vespanya diganti dengan yang orisinil.
Pada tengah malam di gang sempit Jakarta, suara raung  knalpot vespa Ardi membangunkan nenek yang sedang tidur, Nenek meminta Suyuti membopongnya menuju Ardi yang pulang dari Touring vespa. betapa terkejutnya nenek melihat vespa yang dibawa Ardi benar-benar milik kakek. Air mata mengalir betapa harunya, dielus2 vespa merah itu.
“Jangan dijual lagi Vespa ini ya” nenek duduk di kursi goyang sambil melihat Vespa merahnya. Tertidur dan tersernyum, tak lama kemudian nenek menghembuskan nafas terakhir. Seisi rumah panik, Ardi memeluk erat neneknya. Pecah tangis sekeluarga. Hanya penyesalan yang diratapi Suhadi melihat jasad ibunya.
Sebulan setelah kematian nenek, Ardi penasaran dengan Vespa merah kakek tahun  1962 yang sudah nggak lagi orisinil kenapa mesti harus diributkan Nenek dengan Paman Suhadi.
Pada Sabtu Sore Vespa Merah Kakek di cuci, disemprot kemudian dilap mengkilap buat nongkrong acara malam minggu. Ardi meraba lempengan yang agak menonjol di bawah Jok Vespa. Dipukul pelan-pelan dengan gagang kunci busi. Tiba-tiba lempengan itu membuka seperti per pegas yang mendorongnya keluar tutup lempengan. Ada buntalan plastik tebal yang sudah berwarna coklat dan didalamnya ada gulungan kain sebesar buku. Ternyata buku diary kakek dan nenek serta surat-surat cinta, serta beberapa lembar foto-foto tua saat mudanya. Sore itu Ardi sekeluarga membacanya bergantian ayah, ibu, adik sambil minum teh. Ada tawa, haru, senang bangga pada kakeknya yang ganteng seorang pejuang  gagah berani, nenek yang cantik ringan tangan suka menolong sesama. Sebuah perjalanan tentang cerita romantis kakek dan nenek disaat mudanya...
                                                                       Sekarjalak, 16 Agustus 2013

Biodata;
Aloeth Pathi, lahir di Sekarjalak-Pati  16 Maret. Karyanya pernah dimuat  Buletin Prasasti, Mata Media dan beberapa diantaranya dimuat dalam buku antologi bersama, diantaranya Dari Dam Sengon Ke Jembatan Panengel (Dewan Kesenian Kudus dan Forum Sastra Surakarta 2013). Antologi Puisi Menolak Korupsi II (Forum Sastra Surakarta). Aktif di Gandrung Sastra Margoyoso-Pati. Serta mengelola Buletin Gandrung Sastra Media dan Buletin Perahu Sastra. Selain itu juga aktif di Teater Lintang Utara, Lingkar Study Waroeng Kopie (LSWK), Komunitas Oyot Jati Margoyoso, Sanggar Sang Saka Sekarjalak. Tinggal di Jln. Ronggo Kusumo 204, Sekarjalak, Margoyoso-Pati. E-mail : margoyoso-cah@yahoo.com . No hp; 085225149959
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar