LANTAI-LANTAI KOTA
Karya KH. Muhammad Zuhri
Katagori : Buku
Jenis : Agama
& Kepercayaan
Penulis :
KH. Muhammad Zuhri
Muhammad
Zuhri, dalam karya tulisnya yang terakhir berjudul “Lantai-lantai Kota : Mengasah
Kepekaan Nurani dengan Kisah Sehari-hari”. Buku ini pertama kali diterbitkan pada
tahun 2011 oleh Penerbit Zaman.
Buku
ini merupakan Himpunan Hikmah, kumpulan tulisan yang menceritakan tokoh
Ubaidillah yang berhadapan dengan kehidupan kota dan persoalan-persoalan
kekiniannya, ada 13 judul yang menceritakan tentang perjalanan Ubaid di kota.
Sedangkan 65 judul tentang tokoh Dillah, Ustad Desa yang selalu memberi
pencerahan dan solusi-solusi yang ditawarkan kepada muridnya, kadang bisa
dipahami, terkadang juga malah membikin muridnya tambah bingung. Namun hikmah
yang dikemas dalam bentuk anekdot, maupun dialog antara Ustad dengan muridnya
dapat memberi khazanah bagi pembacanya.
Membaca
buku ini, kita akan merasakan bahwa persoalan-persoalan ini memang ada
disekitar kita, dengan penuturan Ubaidillah seorang Urban yang pertama kali
“Menjamah Lantai Kota”, dengan disuguhi perkembangan tehnologi dan kemajuan
yang modern. Ia mencoba memahami perkembangan itu dengan pengetahuan yang
diperolehnya selama ini dari desa. Ia pontang-panting ketika harus memasuki
“Restoran Metropolitan” yang beragam warna persoalan perkotaan yang komplek,
berbeda dengan persoalan di desa. Di kota harus berjuang untuk bertahan hidup,
mencari pekerjaan yang halal, sulitnya
mencari Lowongan pekerjaan, dan adanya sifat konsumtif yang berlebihan dari
sebagian masyarakat kota akibat Sihir-sihir Masa Kini.
Ubaid
bertemu dengan Tukang Loak yang dianggap sebagai guru, karena perilakunya dapat
dipahami sebagai ilmu yang harus dipelajari oleh Ubaid, seakan disadarkan bahwa
setiap persoalan kehidupan yang dialami sebagian masyarakat kota tentulah ada
jawabannya. Terkadang kita lengah dan lupa pada jawaban-jawaban sesungguhnya,
malah lebih percaya pada bisikan atau ajakan manis yang justru semakin
menjauhkan kita pada pencerahan.
Tokoh
kedua bernama Dillah, Ustad desa yang selalu beda pendapat dengan muridnya
maupun padangan umum masyarakat desa, namun pada akhirnya ada pencerahan pada
anekdot serta dialog-dialognya. Seperti Dialog Dillah dengan Pedagang Tua, yang
pada akhirnya Dillah bertanya tentang Siapa Sosok Pedagang Tua itu sebenarnya,
karena Dillah mendapat pencerahan. Di lain cerita Dillah terayun jauh ke masa
silam tentang kerinduannya pada Ladang Tebu depan rumahnya, terbersit suara
dari balik keheningan.
Bila purnama memandang cahaya
Tiada henti si lemah mengusung nasibnya
Di tingkah seruling sendu seniman desa
Semua
cerita tentang Ustad Dillah ini ditulis Pak Muh di desa Sekarjalak, (desa
dimana penulis selalu mengadakan pengajian selikuran dirumahnya setiap tanggal
21.)
Buku
ini begitu mengesankan karena banyak hikmah yang bisa dipetik, ada pencerahan
yang terkandung di dalam cerita kedua tokoh Ubaidillah dan Dillah (karena
keduanya mempunyai kemiripan karakter, bisa jadi kedua tokoh itu sebenarnya
satu dengan nama Dillah ketika masih di Desa sedangkan Ubaidillah adalah ketika
Dillah merantau ke kota. Namun bisa jadi itu benar dua tokoh Dillah dan
Ubaidillah.)
Buku
ini juga dilengkapi dengan Lampiran Wawasan Keagamaan, yang berisi tiga judul ;
Sekilas Tentang manusia dan semestanya, Titik Balik Perjalanan Umat Manusia,
Dewa Ruci (Naskah yang ditulis Pak Muh dengan rasa cinta pada Generasi
Penerus Citra K.H. Ahmad Mutamakkin). Buku ini ditutup dengan artikel wawancara
Pak Muh di sebuah Media Massa 1994 oleh Masruri. Lengkaplah sudah buku ini, bukan hanya sekedar karya sastra atau bacaan
di waktu luang. Namun bisa dijadikan bahan renungan bagi pembaca untuk dapat mengambil dan memetik mutiara-mutira
hikmah.
- Aloeth Pathi. ( Resensi buku ini pernah dimuat dalam Bulletin Perahu Sastra)
LANGIT-LANGIT DESA
Karya : KH. Muhammad Zuhri
Katagori : Buku
Jenis : Agama dan Kepercayaan
Penulis : K.H. Muhammad Zuhri
Pak Muh,
panggilan akrab dari KH. Muhammad Zuhri (almarhum), adalah seorang rohaniawan
dari desa yang selalu mengadakan pengajian rutinan di rumahnya. Beberapa
tulisannya telah diterbitkan. Salah satunya buku berjudul “Langit-Langit Desa :
Himpunan Hikmah Dari Sekarjalak. Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Mizan
pada tahun 1993, kemudian diterbitkan lagi tahun 2005 oleh Yayasan Barzakh. Pada cetakan ketiga di tahun 2008
oleh Penerbit Kreasi Wacana, Yogyakarta.
Buku ini
berisi Himpunan Hikmah Perjalanan Hidup dari Desa Sekarjalak. Sebuah Desa kecil di kecamatan Margoyoso, Kabupaten
Pati. Desa dimana Pak Muh dulu pernah tinggal. Di tengah kesibukannya sebagai
rohaniawan yang selalu memberi wejangan maupun petuah bagi murid-muridnya.
Terkadang Beliau juga tak sungkan untuk mendiskusikan dengan murid-muridnya.
Banyak solusi dalam menghadapi persoalan hidup yang bisa didapatkan. Beliau
sempatkan mencatat beberapa tulisannya, biasanya sehabis mengadakan selikuran
(pengajian yang diselenggarakan tiap bulan sekali pada tanggal 21).
Buku ini
mampu memberikan sinar pencerahan serta hikmah yang dapat dipetik pembaca.
Seperti kisah seorang zahid yang mendapatkan ilham untuk melakukan puasa
telanjang berjubah janggut, untuk menetralisir keseimbangan sejarah, seperti
yang pernah dilakukan oleh Ratu Kalinyamat yang harus bertapa telanjang
berbusana rambut. Untuk membalas dendam kematian suaminya. Hal ini dimaksudkan
untuk menghapus hitamnya dendam masa lampau yang membebani anak keturunannya.
Pak Muh,
juga menulis beberapa tulisan dengan
suasana dan semangat dzikrullah. Misalnya tentang seorang murid yang mencoba
mengamalkan dzikrullah, Namun belum merasa ada perubahan maka sang zahid berujar,
“ kalau engkau sinantiasa ingat akan samudra hatimu akan menganggap kecil
terhadap kolam air yang engkau memiliki” kata-kata sederhana yang memiliki
perenungan yang sangat dalam.
Selanjutnya
seorang ulama yang bertamu ke rumah Zahid yang sedang memberikan ceramah kepada
murid-muridnya, namun ulama itu mendominasi dengan menjawab semua pertanyaan
murid-muridnya Zahid, setelah ulama itu pulang baru murid-muridnya bertanya
“siapa itu ya guru?” “dia adalah ulama yang sangat diagungkan di wilayah ini”.
Beberapa murid saling berpandang dan bergumam “Hmm ada apa disinggasananya
sehingga beliau sangat betah berkhutbah di mimbar orang lain”.
Buku ini
berisi 144 hikmah, diawali dengan Hikmah Berjanggut yang Telanjang berjubah
Janggut, yang kemudian diakhiri. Dengan wawancara seorang wartawan dengan
seorang guru spritual tentang hikmah Rahasia Mukzizat.
Sebuah
buku sastra yang di tulis Pak Muh sangat mengesankan walaupun banyak terdapat
maksud yang sulid dicerna dan kadang menghubungkan namun sasaran melewati ruang
renung. Maka akan dapat memetik hikmah yang
dikandungnya.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar