Rabu, 02 Juli 2014

RESENSI BUKU




LANTAI-LANTAI KOTA
Karya  KH. Muhammad Zuhri

Katagori          : Buku
Jenis                : Agama & Kepercayaan
Penulis            : KH. Muhammad Zuhri


Muhammad Zuhri, dalam karya tulisnya yang terakhir berjudul “Lantai-lantai Kota : Mengasah Kepekaan Nurani dengan Kisah Sehari-hari”. Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2011 oleh Penerbit Zaman.
Buku ini merupakan Himpunan Hikmah, kumpulan tulisan yang menceritakan tokoh Ubaidillah yang berhadapan dengan kehidupan kota dan persoalan-persoalan kekiniannya, ada 13 judul yang menceritakan tentang perjalanan Ubaid di kota. Sedangkan 65 judul tentang tokoh Dillah, Ustad Desa yang selalu memberi pencerahan dan solusi-solusi yang ditawarkan kepada muridnya, kadang bisa dipahami, terkadang juga malah membikin muridnya tambah bingung. Namun hikmah yang dikemas dalam bentuk anekdot, maupun dialog antara Ustad dengan muridnya dapat memberi khazanah bagi pembacanya.
Membaca buku ini, kita akan merasakan bahwa persoalan-persoalan ini memang ada disekitar kita, dengan penuturan Ubaidillah seorang Urban yang pertama kali “Menjamah Lantai Kota”, dengan disuguhi perkembangan tehnologi dan kemajuan yang modern. Ia mencoba memahami perkembangan itu dengan pengetahuan yang diperolehnya selama ini dari desa. Ia pontang-panting ketika harus memasuki “Restoran Metropolitan” yang beragam warna persoalan perkotaan yang komplek, berbeda dengan persoalan di desa. Di kota harus berjuang untuk bertahan hidup, mencari pekerjaan yang  halal, sulitnya mencari Lowongan pekerjaan, dan adanya sifat konsumtif yang berlebihan dari sebagian masyarakat kota akibat Sihir-sihir Masa Kini.
Ubaid bertemu dengan Tukang Loak yang dianggap sebagai guru, karena perilakunya dapat dipahami sebagai ilmu yang harus dipelajari oleh Ubaid, seakan disadarkan bahwa setiap persoalan kehidupan yang dialami sebagian masyarakat kota tentulah ada jawabannya. Terkadang kita lengah dan lupa pada jawaban-jawaban sesungguhnya, malah lebih percaya pada bisikan atau ajakan manis yang justru semakin menjauhkan kita pada pencerahan.
Tokoh kedua bernama Dillah, Ustad desa yang selalu beda pendapat dengan muridnya maupun padangan umum masyarakat desa, namun pada akhirnya ada pencerahan pada anekdot serta dialog-dialognya. Seperti Dialog Dillah dengan Pedagang Tua, yang pada akhirnya Dillah bertanya tentang Siapa Sosok Pedagang Tua itu sebenarnya, karena Dillah mendapat pencerahan. Di lain cerita Dillah terayun jauh ke masa silam tentang kerinduannya pada Ladang Tebu depan rumahnya, terbersit suara dari balik keheningan.
Bila purnama memandang cahaya
Tiada henti si lemah mengusung nasibnya
Di tingkah seruling sendu seniman desa
Semua cerita tentang Ustad Dillah ini ditulis Pak Muh di desa Sekarjalak, (desa dimana penulis selalu mengadakan pengajian selikuran dirumahnya setiap tanggal 21.)
Buku ini begitu mengesankan karena banyak hikmah yang bisa dipetik, ada pencerahan yang terkandung di dalam cerita kedua tokoh Ubaidillah dan Dillah (karena keduanya mempunyai kemiripan karakter, bisa jadi kedua tokoh itu sebenarnya satu dengan nama Dillah ketika masih di Desa sedangkan Ubaidillah adalah ketika Dillah merantau ke kota. Namun bisa jadi itu benar dua tokoh Dillah dan Ubaidillah.)
Buku ini juga dilengkapi dengan Lampiran Wawasan Keagamaan, yang berisi tiga judul ; Sekilas Tentang manusia dan semestanya, Titik Balik Perjalanan Umat Manusia, Dewa Ruci (Naskah yang ditulis Pak Muh dengan rasa cinta pada Generasi Penerus Citra K.H. Ahmad Mutamakkin). Buku ini ditutup dengan artikel wawancara Pak Muh di sebuah Media Massa 1994 oleh Masruri. Lengkaplah sudah buku ini,  bukan hanya sekedar karya sastra atau bacaan di waktu luang. Namun bisa dijadikan bahan renungan bagi pembaca untuk dapat  mengambil dan memetik mutiara-mutira hikmah.     

- Aloeth Pathi.  ( Resensi buku ini pernah dimuat dalam Bulletin Perahu Sastra)


LANGIT-LANGIT DESA
Karya : KH. Muhammad Zuhri


                                                                  Katagori          : Buku
                                                                  Jenis                : Agama dan Kepercayaan
                                                                  Penulis             : K.H. Muhammad Zuhri

Pak Muh, panggilan akrab dari KH. Muhammad Zuhri (almarhum), adalah seorang rohaniawan dari desa yang selalu mengadakan pengajian rutinan di rumahnya. Beberapa tulisannya telah diterbitkan. Salah satunya buku berjudul “Langit-Langit Desa : Himpunan Hikmah Dari Sekarjalak. Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Mizan pada tahun 1993, kemudian diterbitkan lagi tahun 2005 oleh Yayasan Barzakh. Pada cetakan ketiga di tahun 2008 oleh Penerbit Kreasi Wacana, Yogyakarta.
Buku ini berisi Himpunan Hikmah Perjalanan Hidup dari Desa Sekarjalak. Sebuah  Desa kecil di kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati. Desa dimana Pak Muh dulu pernah tinggal. Di tengah kesibukannya sebagai rohaniawan yang selalu memberi wejangan maupun petuah bagi murid-muridnya. Terkadang Beliau juga tak sungkan untuk mendiskusikan dengan murid-muridnya. Banyak solusi dalam menghadapi persoalan hidup yang bisa didapatkan. Beliau sempatkan mencatat beberapa tulisannya, biasanya sehabis mengadakan selikuran (pengajian yang diselenggarakan tiap bulan sekali pada tanggal 21).
Buku ini mampu memberikan sinar pencerahan serta hikmah yang dapat dipetik pembaca. Seperti kisah seorang zahid yang mendapatkan ilham untuk melakukan puasa telanjang berjubah janggut, untuk menetralisir keseimbangan sejarah, seperti yang pernah dilakukan oleh Ratu Kalinyamat yang harus bertapa telanjang berbusana rambut. Untuk membalas dendam kematian suaminya. Hal ini dimaksudkan untuk menghapus hitamnya dendam masa lampau yang membebani anak keturunannya.
Pak Muh, juga menulis  beberapa tulisan dengan suasana dan semangat dzikrullah. Misalnya tentang seorang murid yang mencoba mengamalkan dzikrullah, Namun belum merasa ada perubahan maka sang zahid berujar, “ kalau engkau sinantiasa ingat akan samudra hatimu akan menganggap kecil terhadap kolam air yang engkau memiliki” kata-kata sederhana yang memiliki perenungan yang sangat dalam.
Selanjutnya seorang ulama yang bertamu ke rumah Zahid yang sedang memberikan ceramah kepada murid-muridnya, namun ulama itu mendominasi dengan menjawab semua pertanyaan murid-muridnya Zahid, setelah ulama itu pulang baru murid-muridnya bertanya “siapa itu ya guru?” “dia adalah ulama yang sangat diagungkan di wilayah ini”. Beberapa murid saling berpandang dan bergumam “Hmm ada apa disinggasananya sehingga beliau sangat betah berkhutbah di mimbar orang lain”.
Buku ini berisi 144 hikmah, diawali dengan Hikmah Berjanggut yang Telanjang berjubah Janggut, yang kemudian diakhiri. Dengan wawancara seorang wartawan dengan seorang guru spritual tentang hikmah Rahasia Mukzizat.
Sebuah buku sastra yang di tulis Pak Muh sangat mengesankan walaupun banyak terdapat maksud yang sulid dicerna dan kadang menghubungkan namun sasaran melewati ruang renung. Maka akan dapat memetik hikmah yang dikandungnya.      

 Aloeth Pathi- (Resensi buku ini pernah dimuat Bulletin Gandrung Sastra # 1)

Buku Buletin Perahu Sastra;
Buku Gandrung Sastra #1;

Tidak ada komentar:

Posting Komentar