Rabu, 25 Juni 2014

Antologi Puisi Rindu Rahasia # 1






Rindu Rahasia #1
Copyright © 2014 by Jay Wijayanti, Nastain Achmad Attabani, dkk
viii + 90 hlm. ; 13 x 19 cm
Editing Aksara : Lavira Az-Zahra
Setting dan Layout : Lavira Az-Zahra
Design : Jay Wijayanti
ISBN : 978-602-70149-1-6
Cetakan Pertama, Maret 2014
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Diterbitkan Oleh :
Pena House
Jalan KNPI Gg. Cendrawasih, Bangkle, Blora
Jawa Tengah - 58200
Phone : 08995718264
Email : azzahra.house834@gmail.com
Harga : 38.500


Daftar karya dan kontributor :
1.Pada Jendela Satu Mata (Nastain Achmad Attabani)
2.Cermin Rindu Rahasia (Jay Wijayanti)
3.Mengingatmu Sekali Lagi (Ahmad Solihin)
4.Kasturi Rindu (Rusdi El Umar)
5.Rahasia Rindu (Bunda Umy)
6.Rahasia Rindu-Mu (Shusi Essilent)
7.Dalam Mahabah Rindu (Maftuhah As Sa’diyah)
8.Rinduku (Tri Adnan)
9.Merindu SangPujangga (Lum’atun Nikmah)
10.Rindu Tak Bertuan (Mariyana)
11.Bertaruh Rindu (Muhrodin 'AM')
12.Buraian Rindu (Lavira Az-Zahra)
13.Rindu yang Perawan (Ulfatul Khairiyah Asyaefi)
14.Rindu dan Hujan(Ade Julia Dewi)
15.Rindu dalam Dekap-Nya (Fitrah Rahim)
16.Bisikan Rindu (Indah lestari)
17.Gelora dalam Sukma (Risang Bayu Citra Saptadi)
18.Rindu yang Bersembunyi (Feli Natar)
19.Sajadah Rindu (Medina Azzahra)
20.Maryam (Kan’s Zein Basry)
21.Rintihan Sendu (Lisa Windhiarti)
22.Mati dalam Kerinduan (Ate Lambolonk)
23.Rinai Rindu (Hastira Soekardi)
24.Sekeping Rindu Teruntuk Ayahanda (Asep Awaludin)
25.Sujudku di Mihrab Rindu (Reeva Thalib)
26.Rinai Kerinduan (Elok PPP)
27.Rindu dalam Satu RahasiaNya (Rahmi Mardatillah)
28.Lagu-lagu Gandrung (Aloeth Pathi)
29.Kelam kelabu (Maulana Fajar Wandhiro)
30.Hingar Bisik Kalbu (Malisa Ladini)
31.Rindu, Kau Siksa Aku (Yunita NurisfaMayasari)
32.Tanpa Syarat (Fajriani Fitri)
33.Kidung Jingga (Arinhi Nursecha)
34.Sisa-sisa Rindu (B. K. Raharjo)
35.Sebuah Awamatra (Saniah Amakusa)
36.Rindu Rinduan (RA Afsun)
37.Pada Buku Harian (Muhammad lefand)
38.Rinduku di Ujung Tombak (Mariyanah)
39.Dalam Isak Rindu (Jazmina Shofiya)
40.Sosok Bersorban Putih (Apriliana RosidotulIslamiyah)
41.Spiral Rindu di Pesantren (Siti Qomariyah)
42.Rindu yang Tertulis (Lilis Nurhalimah)
43.Lukisan Kerinduanku (Muthia Kamila)
44.Sebuah Rindu dari Seorang Pengagum (Masqi Fitria)
45.Satu yang Tersisa (Ali Amru Nasution)
46.Rahasia Hati (Dewi Susanti)
47.Kau Tahu? (Ernita Handayani)
48.Rinduku Untukmu (Aisyah Amini)
49.Jiwa yang Merindu (Nana Zahira)
50.Kamu, Rindu, dan Penyesalan (Ugik)
51.Raut Rindu (Arif S. Effendi)
52.Tusukan Rindu (Iklima)
53.Rindu terakhir (Julie Voldy)
54.Perempuan Pagiku (Burhanudin Joe)
55.Tertambat di Kalbu (Meykke Santoso)
56.Sajak Rindu dalam cerita (Nanda Dyani Amilla)
57.Apakah kau Merasa? (Siti yusminah Saputra)
58.Rindu Membatu (Hamdani)
59.Rajutan Cinta Ketiga (Nidhom V. E)
60.Sajak Tak Sampai (Violin JM)
61.Sebongkah Rasa Itu (Anggi Putri)
62.Melodi Rindu (Afiyah Hawada)
63.Berselimut Rindu (Ida Rahmawati)
64.Berharap Aku Juga (Wulandari Nurfitriani)
65.KerinduanNya (Ismala Astari)
66.Masih Untukmu (Anton P. M)
67.Selenting Rindu (Ain Saga)
68.Rinduku Menggerimis (Zakiyah Yuliya Zulfa)
69.Rindu Tak Tersampaikan (Husna Linda Yani Ay)
70.Di Stasiun (Novy Noorhayati Syahfida)
71.Segenggam Rindu (Latifah Ayu Kusuma)
72.Mengucap Rindu (Rahminoer)
73.Renungan dalam Kalbu (Aulia Novita)
74.Sosok di balik Sorban (Anggie Yudientha Axell)
75.Di Balik Tirai Kerinduan (Neneng Nurhasanah)
76.Rindu Cinta (Feri Rokhyani Thohid)
77.Kuselipkan dalam Goresan (Nusandrawali Gosul)





LAGU LAGI GANDRUNG


Ketika kutulis kata-kata indah direlung-relung hatimu
Kehempaskan aku dengan harum nafasmu
dingin memberi kesejukan
Ketika kubaca garis tanganmu
Kemudian ku kecup di ujung jarimu
Kau balas aku dengan sungging senyum manismu lesung pipit
Kembang hati isi  penuh wangi bunga
Aku buat lagu ini hanyak untukmu
Karena aku tahu hatiku hanya pantas untukmu
Ketika sore hari menjalang malam
Sambil minum secangkir teh di sore hari
Melihat sunset
bercerita hari esok
tentang gemercik air dari bambu mengalir di samping  rumah mungil
dan bakal anak-anak kita  berlari gembira di pematang sawah
                                                  
                                                  Sekarjalak, 28 Januari 2014

Aloeth Pathi, lahir di Pati- Jawa Tengah. Karyanya dimuat  Mata Media antologi bersama. kelola Buletin Gandrung Sastra Media & Perahu Sastra. Tinggal di Jln. Ronggo Kusumo 204, Sekarjalak, Margoyoso-Pati. FB: Aloeth Pathi II, E-mail : margoyoso-cah@yahoo.com . No hp; 085225149959

Antologi Puisi Menggenggam Dunia





Negeri Zamrut Katulistiwa
Ketika ruangan belajar bocor dan air  menggenang di pelataran SD Impres
selokan mapet karena padat perkampungan, iuran sekolah fiktif  jalan terus
pesta para kurcaci membelah kue dana pendidikan sebagai pelicin bagi-bagi rejeki
sebuah musabab yang harus dicari solusinya

Ketika ada beberapa oknum melanggar kode etik Sumpah pejabat usai dilantik
Sikat uang Negara demi kepentingan keluarga dan kroni-kroninya
Itu harus dipangkas sebagai aib berbangsa dan bernegara
sebuah musibah yang harus direnungi dan ditindaklanjuti

Masih Ingatkah bagaimana Patih Gajahmada Mempersatukan nusantara ?
Bagaimana  ribuan para pejuang berkorban jiwa raga mengusir kedzoliman di negeri ini
Maka stop mencaci maki negeri sendiri, Jangan jadi penakut dan pengecut !!!

Lihat bangunan megah berdiri  di negeri ini
Candi Borobudor, Prambanan, Masjid Istiqlal, Gereja Kathedral
Teloransi harus didepankan,  bukan egosentris yang nampak
Bukankah  ayat-ayat Tuhan memberi ajaran untuk saling menghargai
menghormati bukan saling menyakiti sesamanya.
Maka stop kekerasan atas nama agama

Marga satwa , beragam flora masihkah bias tumbuh mendiami negeri ini
Harimau Sumatra,  Cindrawasih di papua
 gaharu, cengkeh, pala,  kepulaga,  semoga masih lestari
demi generasi anak-cucu yang kelak mewarisi negeri ini
maka stop eksploitasi alam dan perburuan satwa atas nama apa pun.

Saatnya bangkit kembali membangun Negeri Nusantara 
Negeri Mutiara Mutumanikam, Zamrut Katulistiwa

                                                                          Pati, 18/12/13

Aloeth Pathi, lahir di Pati- Jawa Tengah. Karyanya dimuat  Mata Media dan antologi bersama, kelola Buletin Gandrung Sastra Media & Perahu Sastra. Tinggal di Jln. Ronggo Kusumo 204, Sekarjalak, Margoyoso-Pati.
E-mail : margoyoso-cah@yahoo.com . No hp; 085225149959

Mom, The First God That I Knew


Minggu, 5 Januari 2014
Pk. 15.00 - 17.00
Garasi10, Jl. Rebana no. 10
Gratis dan Terbuka untuk Umum

Ketika surga dipandang sebagai tujuan akhir kehidupan akhirati dalam pandangan agamawi, maka tidak mengherankan awal perjalanan menuju tempat itu bermula dari pentingnya kita menghayati sosok seorang ibu - Setiawan Sabana

Rudy Rinaldi, kawan kami, suatu ketika pernah mengusulkan ide menarik untuk ulangtahun ibundanya. Katanya, "Saya ingin kawan-kawan mengumpulkan tulisan tentang ibu masing-masing untuk kemudian dikompilasikan jadi sebuah buku. Buku itulah kado yang akan saya berikan untuk ulang tahun ibu." Ternyata, diluar dugaan Rudy sendiri, respon terhadap buku tersebut sangat positif. Lebih dari dua puluh orang kontributor mengekspresikan perasaannya terhadap sang ibu baik lewat esai maupun puisi. Rudy pun kemudian mengembangkan ide. Ia ingin agar buku berjudul Mom: The First God that I Knew ini tidak hanya dikonsumsi oleh ibundanya saja, melainkan oleh publik secara luas. 
Apa yang dilakukan pada tanggal 5 Januari nanti adalah peluncuran buku Mom: The First God that I Knew yang sudah merupakan hasil revisi dan juga penambahan jumlah penulis dari sebelumnya. Jelas bahwa buku tersebut sudah banyak berkembang dari konsep semula yang tadinya hanya ditunjukkan untuk ibunda dari Rudy, menjadi untuk ibunda siapapun di seluruh dunia. Tidak hanya peluncuran buku saja, acara nanti juga akan berisi pembacaan tulisan per tulisan secara bergantian yang sangat mungkin merangsang terjadinya berbagai renungan. Kami menyebutnya sebagai "renungan bersama", karena soal ibu tidak cocok jika kita menggunakan kata-kata semisal "diskusi" atau "debat". Biarkan kasih ibu menyelimuti kita tanpa usah kita pikirkan menggunakan rasio yang terbatas.

Judul buku : Mom: The First God that I Knew
Penulis : Arden Swadjaja, Ardianto, Cecep Rukmana, Anonimus 1, Rio Rahadian Tuasikal, Vedanta Yoga, Miki Cen, Raudika Lestari, Driyan Natha, Lucky Ramadhan, Annisa Damayanti Maya, Mismayani Tahir, Cindy Naomi Tobing, Risang Bayu, Rudy Rinaldi, Wendy Da Re, Ayah Abang, Annisa Alhamdani Bocha, Nugraha Sugiarta, Bilawa Ade Respati, Anonimus 2, Reza Rinelda, Aiko Myori Shoji, Emma Nawangsih, Lala Tobing, Issaiah Fanny, Anqa, Aloeth Pathi, Kristanto Gawulo, Yustinus Kristanto, Amalia Rahmatika, Andi J. Chen, Azhari, Eva Yuli, Hariyani, Bram Tipis, Syarif Maulana.
Kata Pengantar : Setiawan Sabana
Penerbit : Garasi10
Jumlah halaman : 164 halaman
Harga : Rp. 50.000

Puisi :


                         Maafkan , Aku Ibu !

Ketika tertatih
susur i  jalan mengeja abjad
Ada senyum kebahagian terpancar diwajahmu
Kasihmu
senandung cinta

Doá sederhana pekat ketulusan
Pada malam-malam tahajutmu
Tentang esok langkah menuju hidup

Semoga kelak anakku jangan jadi koruptor
Memakan yang bukan haknya
Aku tak mau kelak ingkari kebenaran”
Lurus
Luruslah
Jujur
Jujurlah anakku”


Ibu,
maafkan aku belum bisa menenangkan tangismu
Belum bisa menghapus airmata dipipimu
Ibu sembah sujutku padamu

Kajen, Oktober 2013


Antologi Puisi Epifani Serpihan Duka bangsa




Puisi dan Penulisnya

Perempuan Dan Reruntuhan Karya: Agus Hariyanto Rasjid 
Bocah Kecil Dan Reruntuhan Karya: Agus Hariyanto Rasjid

            Bertanya Bencana Karya: Agus Sukoco 
       Bencana Itu Adalah Kamu Karya: Agus Sukoco

        Jangan Menangis Beee !!! Karya: Aloeth Pathi 
           Pesan Dari Gunung Karya: Aloeth Pathi


                 Perjalanan Karya Anta Sulthoni

             Yang Tersisa Karya: Apollonia Corida

           Negeri Atas Angin Karya: Ary Nurdiana 
         Janjiku Pada Negeriku Karya: Ary Nurdiana 
             Wajah Negeriku Karya: Ary Nurdiana 
               Anak Negeri Karya: Ary Nurdiana

             Nyanyian Ciliwung Karya; Aryo Ayok

        Tangisan Bumi Pertiwi Karya: As Syifa Aulia 
   Kidung Perih Gunung Sinabung Karya: As Syifa Aulia 
            Muhasabah Diri Karya: As Syifa Aulia 
         Sinabung Berguncang Karya: As Syifa Aulia

           Tanah Yang Murka Karya: Asri Aprianti

                Emosi Alam Karya: Asrie Dede 
    Di sini Aku Kirim Doa Untukmu Karya: Asrie Dede 
    Sampai Di Mana Perjalananmu Karya: Asrie Dede  
               Getaran Nada Karya: Asrie Dede

              Pada Mata Itu Karya: Asrie Lestari 
            Catatan Almanak Karya: Asrie Lestari 
            Jika Alam Marah Karya: Asrie Lestari

   Trenyuh Empati Karya; Bambang Kustedjo Soedarjo 
    Bulan Berkabut Karya; Bambang Kustedjo Soedarjo

                   Duka Karya: Budi Wiyono 
                   Resah Karya: Budi Wiyono

      Tiada Pantas Aku Berdiri Karya: Burhanudin Joe 
        Sinabung Menggugat Karya: Burhanudin Joe 
 Gunungku Terlanjur Tua Karya: Burhanudin Joe 
              Indonesiaku Karya: Burhanudin Joe

 Bukan Toba Supervolcano Karya: Didi Pengeja Al Adabi 
Manuskrip Kegelisahan Cinta Karya: Didi Pengeja Al Adabi 
        Genta Sebuana Karya: Didi Pengeja Al Adabi 
     Replika Untung Diri Karya: Didi Pengeja Al Adabi

         Bencana Negeriku Karya: Fitryana Nur Aini 
      Berdoa Dalam Bencana Karya: Fitryana Nur Aini 
         Meratus Menangis Karya: Fitryana Nur Aini

  Tragedi Cinta Nestapa Kelud Karya: Gampang Prawoto
            Wisik Kelud Karya: Gampang Prawoto

   Bocah Kecil Dalam Dekapan Karya: Hastira Soekardi

    Menaguk Ikan Di Air Keruh Karya: Helmi Setyawan 
        Mengapa Harus Kami Karya: Helmi Setyawan 
   Untuk Tuan Pemberi Bantuan Karya: Helmi Setyawan

                 Bencana Karya; Hendi Tragedi

          Menuai Bencana Karya: Herry Abdi Gusti 
          Festifal Gunung Karya: Herry Abdi Gusti

                 Sadarlah Karya: Ining Rusmini 
              Ujian Tuhan Karya: Ining Rusmini 
              Api Sinabung Karya: Ining Rusmini

                  Banjir Karya: JF Widianigsih 
                   Sesal Karya: JF Widianigsih

            Tangisan Malam Karya: JF Widianigsih 
          Semua Salah Kami Karya: JF Widianigsih

        Mungkin Tuhan Marah Karya: Koko Prianto 
                   Lahar Karya: Koko Prianto

       Gerimis Di Mata Negeri Karya: Minto Leksono 
           Gemuruh Bumiku Karya: Minto Leksono 
         Lemahnya Tegunku Karya: Minto Leksono 
             Jangka Rasaku Karya: Minto Leksono

        Pahitnya Merapi Karya: Muhammad Zamzuri

             Teguran-Nya Karya: Mustamir Khafid 
              Berkabug Karya: Mustamir Khafid

           Ratap Tole Karya: Nani S Kartamihardja 
Tidurlah Dengan Damai Karya: Nani S Kartamihardja 
   Hilanglah Mimpi-mimpi Karya: Nani S Kartamihardja

      Bersabarlah Tanah Karo Karya: Neny Makmum 
      Mungkin Teguran Tuhan Karya: Neny Makmum 
      Jangan Pernah Berhenti Karya: Neny Makmum 
          Kekuatan Itu Ada Karya: Neny Makmum

        Suatu Senja Di Tanah Karo Karya: Nieranita 
        Hilangnya Kepingan Jamrud Karya: Nieranita 
                  Satu Menit Karya: Nieranita 
             Bila Tiba Saat-Nya Karya: Nieranita

    Semua Bisu Tertutup Abu Karya: Nur Ria Widiarti 
         Tradisi Kungkum Karya: Nur Ria Widiarti

            Rencana Bencana Karya: Octavianus

           Rindu Senyum Sinabung Karya: Renita 
                 Duka Sinabung Karya: Renita 
              Di Manakah Ayahku Karya: Renita 
                Ratapan Pribumi Karya: Renita

            Bumiku Membiru Karya: Retno Dinar

       Bumi Berselimut Duka Karya: Reza Mahardika

            Tangisan Anak Karya: Ricky Adityanto

    Simpan Amarahmu Sinabung Karya: Rose Marry St 
           Tegur Tuk Tegar Karya: Rose Marry St 
         Debu Berhamburan Karya: Rose Marry St 
             Tragedi Kelud Karya: Rose Marry St

        Mari Bergandeng Tangan Karya: S Indayani 
                Relung Hati Karya: S Indayani 
           Berbagilah Denganku Karya: S Indayani 
             Nyalakan Cahaya Karya: S Indayani

      Tangisan Putra Karya: Seyhan Zuleha Bachtiar 
 Pesan Cinta Dari Kelud Karya: Seyhan Zuleha Bachtiar 
       Surat Pendek Karya: Seyhan Zuleha Bachtiar 
Jangan Marah Pada Kami Karya: Seyhan Zuleha Bachtiar 
          Kematian Karya: Seyhan Zuleha Bachtiar

    Dongeng Dari Negeri Bencana Karya: Sidik Ihwani 
              Sketsa Kelud Karya: Sidik Ihwani

  Maafin Emak Nak Karya: Srikandy Ayoe
            Pusara Cinta Karya: Srikandy Ayoe

              Amarah 1 Karya: St Sri Emyani 
              Amarah 2 Karya: St Sri Emyani

     Kenangan Tentang Kelud Karya: Tino Jooshe 
             Mari Bersujud Karya: Tino Jooshe 
             Cerita Marni Karya: Tino Jooshe

    Indoonesia Tanah Air Mata Karya: Tosa Poetra 
        Tak Ada Kabar Baru Karya: Tosa Poetra 
Sepenggal Cerita Dari Pandansari Karya: Tosa Poetra

          Padang Ilalang Karya: Tulus Setiyadi 
      Kelud Mewakili Tuhan Karya: Tulus Setiyadi

           Ampuni Kami Karya: Utada Tienza

              Semoga Karya: Widuri Dewanti 





Jangan Menangis Bee..!!!

Bee…
Anak berambut sebahu bicaranya gagu
Mainkan jari-jari mungilnya
Menghitung jatuhnya tetes air dari genting atap rumah yang bocor
Sementara temannya bermain di halaman sekolah

Bee selalu merindukan datangnya hujan
Seperti biasanya bila hujan turun
ia akan keluar rumah bersama teman sebaya
bermain di pematang sawah
mengepakan kedua tangannya seperti burung Elang Jawa
terbang bebas melayang ke kiri ke kanan
melanting ke atas
menukik ke bawah
dengan tatap matanya yang tajam
siap menyambar tikus musuh para petani

Siang ini mendung hitam menggantung di Langit Utara
seminggu lebih hujan mengguyur desa tercinta
air bendungan meluap  menggenangi sawah bapaknya
pematang sawah tempat ia bermain tak nampak dipandang mata

Bee.. Anak berambut sebahu bicaranya gagu
Tatapannya kosong tak keluarkan airmata..
ia tak bermain hujan-hujanan
Ia sedih kucingnya mati tertimpa dinding rapuh
Ia terluka hatinya karena rumah mungil kini tinggal daun pintu
orang tuanya mengungsi di SD Impres dekat pertigaan pasar
separuh warga desa mengungsi karena banjir datang tiba-tiba menghancurkan semuanya
Bee.. Anak berambut sebahu
Berbicara gagu
sembunyikan air matanya diantara deras air hujan siang ini
     : aku tahu semuanya, Jangan Menangis Bee!!
                                                                Pati, 9 Februari 2014




Pesan dari Gunung

Rasanya baru kemarin aku lewati kota ini
Masih nampak hijau dedaunan
Sawah mulai menguning
Para gembala masih menunggu di bawah pohon mangga
Melihat sapi-sapinya di tanah lapang

Anak-anak bercelana merah berbaju putih dengan tas di punggungnya
Bercanda sepanjang jalan menuju sekolah dekat kecamatan
Aktifitas pagi ibu-ibu di Pasar dengan keranjang dipundaknya
Membawa sayuran, papaya, kacang panjang, buncis.

Ketika malam hampir separuh perjalanan
tiba suara menggelegar beruntun
membuat panik warga desa maupun kota
jerit tangis diantara gumam dan takbir
Beberapa orang berlarian menuju barak pengungsi
Selamatkan diri masing-masing
Seperti Zombie tubuhnya penuh semburan abu vulkanik
Mereka panik
terluka sakit perih
malam semakin larut
Gunung telah menyampaikan pesan-Nya

Hari ini aku melihat kota sepi seperti kota mati
Bangunan porak poranda dihantam batu kerikil
Luapan magma letusan Gunung Kelud
membuat penghuni kota tersentak, wajah dan rambutnya putih terkena semburan abu vulkanik
Potret Kota kusam hitam-putih tak berwarna pelangi.
                                                                                               
                                                               Sekarjalak, 20 Februari 2014


Aloeth Pathi, lahir di Pati- Jawa Tengah. Karyanya dimuat  Mata Media antologi bersama, Puisi Menolak Korupsi 2 (Forum Sastra Surakarta 2013), Dari Dam Sengon Ke Jembatan Panengel (Dewan Kesenian Kudus dan Forum Sastra Surakarta 2013),Komunitas Harmonika Kehidupan ; Harmonika Desember (Sembilan Mutiara 2014), Kemilau Mutira Januari (Sembilan Mutiara 2014), Menggenggam Dunia (Mafasa 2014) Mom: The First God that I Knew (Garasi 10 Bandung 2014). kelola Buletin Gandrung Sastra Media & Perahu Sastra. Tinggal di Jln. Ronggo Kusumo 204, Sekarjalak, Margoyoso-Pati. FB: Aloeth Pathi II, E-mail : margoyoso-cah@yahoo.com . No hp; 085225149959

Antologi Puisi Kepada Tuan Presiden



Judul: KEPADA TUAN PRESIDEN
Genre: Antologi Puisi
Penulis: Famili Camar

Harga: Rp 32.000,-
Harga Kontributor: Rp 28.500,-
Ongkir: Rp 15.000,- per 1-3 eksemplar (seluruh indonesia)

Kontributor:

Abidah Nur Solikha | Agus Koswara | Ainul Fitriyah | Aldy Istanzia Wiguna | Aloeth Pathi |Anas Regandhi |Andrian Eka Saputra | Arind Reza | Ariyani | Atika Rahma F | Aziza Zuhroh Sya’bandiyah | Barep Pangestu | Burhanuddin Joe | Candra Irawan | Citra Putri Ramadani | Daviatul Umam el-S | Eka Safria P.A | Elly Raheliyawati | Feli Natar | Hastira Soekardi | Herman Suryadi | Inten Mustika Kusumaningtias | M. Ridho Ilahi | Malisa Ladini | Meliana Levina Prasetyo | Muhammad Rifqi Saifudin | Novel | Nuriza Auliatami | Nurminingtyastuti | Onya Hero | Reta Nurul Utami | Risang Bayu Citra Saptadi | Sefriadi AZ | Sidiq Maullanna
Siswanto | Tri Adnan | Wahyu Eko Savitri | Wisandria Notisa | Yeni Kurniawati






Seandainya Kau Jadi Presiden

Aku masih ingat lima belas tahun  lalu
ketika kau berdiri diatas mimbar
Berbicara lantang
Terjang menantang penguasa
seperti pedang tajam membabat benalu-benalu negeri

 Aku masih ingat lima belas tahun  lalu
ketika kau berdiri diatas mimbar
Menolak segala intimidasi  terhadap mahasiswa
Menuntut tuntas kasus pelanggaran HAM
Mendukung pemberantasan praktek korupsi dalam bentuk apapun,
Baik tingkat pusat maupun sampai di balai kelurahan

Kagum ku melihatmu
begitu garang suarakan aspirasi rakyat
“kami adalah mahasiswa atas nama nurani berjanji bagimu negeri”
 Parlemen  jalanan gerak cepat di jantung kekuasaan
 panji-panji perlawanan berkibar  penuhi angkasa
Meminta tanggung  jawab kebijakan penguasa
Yang menyimpang dari amanat rakyat.

Lima tahun lalu kau masih idialis pada garis perjuanganmu
siang-malam kau bicara tentang penindasan yang  harus diselamatkan
“karena negeri kami di tepi jurang  nyaris  jatuh runtuh “

Mensosialisasikan undang-undang
supaya rakyat makin pandai  tak mudah ditipu 
apalagi dibodohi  para calon wakil rakyat 
memberi obat kumur  bagi  mulut pendusta bertopeng sinterklas
par a pemimpin tak realisasikan program unggulan  sampai diakhir jabatan

hari ini aku lihat poster-postermu  dibaliho terpampang di beberapa sudut tembok
besar berdiri megah disudut-sudut kota
Sekarang kau agak gemuk dan terawat
aku akan  memilihmu
dengan bangga aku kabarkan dipenjuru kota maupun desa
“itu temanku calon presiden”
sebuah  pencitraan terbalut melankolis tentang  kekuasaan  negeri
ah, itu hanya kerakusan dan arogansi diri
Tidak!!!
Itu sebuah harapan yang harus diwujudkan

Seandainya Kau terpilih jadi Presiden
Semoga tak lupa, apa yang pernah kau ucapkan
Ingat perjuangan dulu kawan !!!
Kau begitu gagah menolak Korupsi, Kolusi, Nepotisme
Semangat menyosong hari baru menuju perubahan
jangan nodai  dengan pengingkaran sumpah anak  negeri
berkhianat pada  cita-cita leluhur pendiri negeri

Pati Kota, 21 Desember  2013



Pilihku Memilihmu
Andai kau pilihku memilihmu!
Apa yang akan kau berikan  padaku
Hingga membuat aku yakin memilihmu
Jika kau tawarkan janji rakyat akan  meng-Amin-i
Jika kau ingkari janji  rakyat  akan menghakimi
Itu saja..sederhana dan  mudah bukan ??!!!
                                                        
                                                        Sekarjalak, 220608